MPLS Ramah

ASESMEN KEBUGARAN

Asesmen Kebugaran Jasmani merupakan instrumen deteksi dini yang bertujuan memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kebugaran dan kesehatan fisik peserta didik melalui pengukuran Identifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT), cek denyut jantung, dan tes fleksibilitas. Hasil asesmen digunakan sebagai data awal bagi sekolah untuk mengenali kondisi fisik murid, mendukung perencanaan layanan kesehatan dan pembinaan kebugaran, serta membantu mewujudkan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.

1. Identifikasi Indeks Massa Tubuh Untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA/K, dan SLB

Identifikasi Massa Tubuh adalah ukuran yang diperoleh dari perbandingan berat badan dan tinggi badan murid.  

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk 

  1. mengetahui status gizi dan komposisi tubuh murid;
  2. mengidentifikasi murid dengan risiko kesehatan terkait berat badan; serta
  3. memberikan data dasar untuk perencanaan program kesehatan dan kebugaran sekolah.

CATATAN PENTING

  1. Jadwal pengukuran tinggi badan dan berat badan disesuaikan oleh sekolah berdasarkan jumlah murid dan ketersediaan waktu pelaksanaan.
  2. Jika hasil Identifikasi Massa Tubuh menunjukkan perlunya perhatian lebih lanjut, sekolah dapat mengarahkan murid dan orang tua untuk berkonsultasi dengan UKS, puskesmas, tenaga kesehatan, atau layanan kesehatan lain yang tersedia.
  3. Orang tua/wali dapat menyesuaikan pola makan, aktivitas fisik, dan pendampingan kesehatan anak sesuai kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mendukung tumbuh kembang, menjaga kebugaran, serta mencegah risiko kesehatan.
Petugas, alat, dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan

Petugas, alat, dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini adalah

    1. 1 orang pencatat data;  
    2. 1–2 orang pengawas & instruktur;  
    3. timbangan badan (digital atau analog) yang sudah dikalibrasi;
    4. stadiometer atau alat ukur tinggi badan (microtoise); serta
    5. alat tulis dan kalkulator.
    6. Khusus untuk SLB dapat menyesuaikan kebutuhan lain yang sesuai dengan ragam disabilitasnya
Alur Kegiatan

Alur Kegiatan kegiatan ini adalah sebagai berikut. 

  1. Murid diminta untuk melepas alas kaki, jaket, dan atribut berat lainnya.
  2. Murid berdiri tegak di atas timbangan dengan posisi tubuh seimbang. Catat berat badan dalam kilogram (kg) dengan ketelitian 0,1 kg.
  3. Murid berdiri tegak membelakangi stadiometer, dengan tumit, bokong, punggung, dan kepala bagian belakang menempel pada dinding. Pandangan lurus ke depan.
  4. Catat tinggi badan dalam sentimeter (cm) dengan ketelitian 0,1 cm, lalu konversi ke meter (m).
  5. Hitung IMT dengan rumus: IMT = Berat Badan (kg)/[Tinggi Badan (m)]².
  6. Catat hasil IMT dan informasikan kepada murid agar dapat diinput saat pelaksanaan rangkaian tes pada hari ketiga.

Hasil IMT dihitung dengan rumus:

contoh: Jika berat badan 50 kg dan tinggi badan 1,60 m, maka IMT = 50 / (1,60 × 1,60) = 50 / 2,56 = 19,53 kg/m²

2. Pertemuan Pagi Ceria, Cek Denyut Jantung, dan Tes Fleksibilitas

Tujuan Kegiatan:

  1. Menumbuhkan semangat, kebersamaan, dan rasa cinta tanah air melalui senam pagi yang menyehatkan, menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan penuh hormat, serta berdoa bersama untuk membentuk sikap disiplin, religius, dan nasionalis pada murid.
  2. Mengetahui kondisi kerja jantung murid secara sederhana sebelum dan setelah melakukan aktivitas fisik sehingga dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan perlunya pemeriksaan lanjutan.
  3. Mengukur kelentukan tubuh bagian bawah, terutama fleksibilitas otot paha belakang dan punggung bawah.
Alat dan Bahan:
  1. Video atau musik senam “Anak Indonesia Hebat” (s.id/senam_SAIH
  2. Jinggel MPLS Ramah (http://s.id/laguharibaru)
  3. Pengeras suara (opsional)
  4. Lagu “Indonesia Raya” (https://s.id/laguindonesiaraya2026)
  5. Jam tangan (stopwatch)
  6. Penggaris dengan panjang minimal 30 cm (skala harus jelas terbaca dan tidak rusak)
  7. Plester perekat/selotip/kapur tulis (digunakan untuk membuat garis dasar  sepanjang 45 cm di lantai)
  8. Lantai datar, rata, bersih, dan tidak licin (gunakan matras tipis jika lantai keras atau kasar)
  9. Lembar pencatatan data tes fleksibilitas yang memuat kolom nomor, NPSN, nama siswa, NISN, dan tanggal lahir (lembar dapat diunduh di http://s.id/hasiltesfleksibilitas)  (opsional)
  10. Alat tulis
Alur Kegiatan
  1. Pengukuran Denyut Jantung Sebelum Pertemuan Pagi Ceria
    • Selama menunggu murid berkumpul, guru memutar jinggel MPLS Ramah dan lagu “Rukun Sama Teman” (jinggel MPLS http://s.id/laguharibaru  dan lagu “Rukun Sama Teman” http://s.id/lagurukunsamateman).
    • Guru mengajak murid menyanyikan dan bergerak dengan latar lagu jinggel MPLS Ramah.
    • Guru menyiapkan jam tangan (stopwatch) dan alat tulis.
    • Guru menyiapkan murid untuk berdiri sesuai dengan barisannya.
    • Guru mengarahkan murid untuk meletakkan tangan telunjuk dan jari tengah pada pergelangan tangan bagian dalam atau pada leher.
    • Guru memberikan pengarahan kepada murid untuk menekan lembut hingga denyutan terasa.
    • Guru meminta murid mulai menghitung ketika stopwatch ditekan sampai detik ke-15 atau tanda berhenti.
    • Murid mengingat dan menyampaikan hasil hitungan selama 15 detik kepada guru.
    • Guru mencatat dan merekap hasil hitungan denyut jantung murid.
    • Ketika ada murid yang menyentuh denyut jantung 30 kali dalam waktu 15 detik, guru menyarankan murid untuk tidak mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat.
  2. Pelaksanaan Pagi Ceria
    • Guru mengatur posisi senam murid.
    • Murid dan guru bersama-sama melaksanakan Senam Anak Indonesia Hebat (panduan senam:s.id/senam_SAIH).
    • Murid dan guru bersama-sama menyanyikan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”.
    • Guru mengajak murid berdoa pagi bersama sesuai dengan keyakinan murid masing-masing.
  3. Pengukuran Denyut Jantung
    • Guru menyiapkan kembali jam tangan (stopwatch) dan lembar pencatatan.
    • Guru mengarahkan murid untuk meletakkan tangan telunjuk dan jari tengah pada pergelangan tangan bagian dalam atau pada leher.
    • Memberikan pengarahan kepada murid untuk menekan tangan dengan lembut hingga denyutan terasa.
    • Guru meminta murid mulai menghitung ketika stopwatch ditekan sampai detik ke-15 atau tanda berhenti.
    • Murid mengingat dan menyampaikan hasil hitungan selama 15 detik kepada guru.
    • Guru mencatat dan merekap hasil hitungan denyut jantung tiap murid.
  4. Persiapan Area Tes Fleksibilitas
    • Pilih area yang memiliki permukaan lantai datar, keras, bersih, dan cukup luas untuk menampung murid serta petugas.
    • Tempelkan plester perekat atau gambarkan dengan kapur tulis sebuah garis lurus sepanjang 45 cm di lantai sebagai garis dasar.
    • Letakkan penggaris seperti pada Gambar 3.1. Pastikan titik 0 (nol) berada pada garis dasar yang sejajar dengan tanda penggaris pada panjang 10 cm. Bagian penggaris yang mengarah ke murid bernilai negatif (−), yaitu kurang dari 10 cm, sedangkan bagian yang menjauhi murid bernilai positif (+) atau lebih dari 10 cm.
    • Pastikan skala pengukuran dapat dibaca dengan jelas dari posisi berdiri petugas pencatat.
    • Siapkan lembar pencatatan data, alat tulis, dan air minum di area tes.
  5. Persiapan Murid
    • Konfirmasi bahwa seluruh murid dalam kondisi sehat dan tidak memiliki kontraindikasi medis terhadap tes ini.
    • Berikan penjelasan prosedur tes secara lengkap dan lakukan demonstrasi langsung di hadapan murid sebelum tes dimulai.
    • Murid menggunakan pakaian olahraga.
    • Laksanakan pemanasan  (warming up) selama 3–5 menit.
    • Murid dilarang mengkonsumsi makanan berat dalam rentang minimal 1 jam sebelum tes dilaksanakan.
  6. Pelaksanaan Tes Fleksibilitas
    • Murid duduk di lantai dengan kedua kaki lurus ke depan membentuk sudut V.
    • Kedua tumit diletakkan tepat di atas perekat dengan jarak antartumit 45 cm.
    • Kedua tungkai harus dalam kondisi lurus penuh (ekstensi maksimal). Lutut tidak boleh ditekuk dalam keadaan apa pun selama pelaksanaan gerakan. Telapak kaki dalam posisi tegak dan jari-jari kaki menghadap ke atas.
    • Kedua tangan ditumpuk satu di atas yang lain (telapak tangan menghadap ke bawah) dengan jari tengah kedua tangan sejajar dan lurus. Ujung jari diletakkan di atas penggaris sebagai titik pengukuran.
    • Murid membungkukkan badan ke depan secara perlahan, mendorong ujung jari tangan sejauh mungkin di sepanjang penggaris. Gerakan dilakukan secara lambat, mulus, dan terkendali.
    • Posisi jangkauan terjauh dipertahankan selama 3 (tiga) detik tanpa melepaskan tekanan ujung jari agar petugas dapat membaca hasil capaian dengan akurat.
    • Tes dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan. Jeda istirahat tiap percobaan adalah 10–20 detik. Murid diperbolehkan untuk duduk rileks, tetapi tidak berdiri atau berpindah posisi.
    • Setelah selesai beraktivitas, guru mengajak murid kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya.

Tindak Lanjut Hasil Identifikasi Massa Tubuh

1. Guru mengidentifikasi hasil IMT murid dengan menggunakan tabel berikut.

Standar Indeks Masa Tubuh menurut Umur  (IMT/U) anak laki-laki umur 5-18 tahun

Standar Indeks Masa Tubuh menurut Umur  (IMT/U) anak perempuan umur 5-18 tahun

Catatan: untuk KB dan SPS yang usianya kurang dr 5 tahun bisa merujuk pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

Kategori Status Gizi Ambang batas (Z-Score)
Gizi Buruk (severaly thinnes)
< -3 SD
Gizi Kurang (thinnes)
-3 SD sd < -2 SD
Gizi Baik (normal)
-2 SD sd < +1 SD
Gizi Lebih (overweight)
+1 sd + 2 SD
Obesitas (obese)
> +2 SD

1. Guru menyampaikan rekomendasi kepada orang tua/wali. Hasil ini digunakan sebagai dasar rekomendasi umum untuk  pendampingan, edukasi kesehatan, pembinaan aktivitas fisik, dan komunikasi dengan orang tua jika diperlukan.

Tindak Lanjut
Diperlukan intervensi medis dan perbaikan asupan gizi segera melalui kerja sama dengan fasilitas kesehatan, sekolah, dan orang tua. 

Rekomendasi
Saran untuk siswa: Makan makanan bergizi lengkap 3x sehari. Konsumsi protein setiap hari (telur, ikan, tahu, tempe). Minum susu jika tersedia.

Saran untuk sekolah/guru: Rujuk ke puskesmas atau dokter segera. Lakukan  pemberian makanan tambahan (PMT). Pantau berat badan setiap 2 minggu.

Saran untuk orang tua: Pastikan anak mendapat makan bergizi cukup di rumah. Konsultasikan ke dokter atau ahli gizi untuk penanganan lebih lanjut.

Tindak Lanjut
Memerlukan peningkatan porsi dan variasi asupan gizi harian serta pemantauan berat badan secara berkala.

 

Rekomendasi 
Saran untuk siswa: Tambah porsi makan dan variasi lauk bergizi. Konsumsi camilan sehat (buah, kacang, susu) di antara jam makan.

Saran untuk sekolah/guru: Monitor berat badan bulanan. Berikan edukasi gizi di kelas. Koordinasi dengan orang tua terkait pola makan di rumah.

Saran untuk orang tua: Sediakan makanan bergizi dan bervariasi di rumah. Pastikan anak sarapan setiap hari sebelum berangkat sekolah.

Tindak Lanjut
Mempertahankan kebiasaan pola makan sehat, gizi seimbang, dan aktivitas fisik secara rutin.

 

Rekomendasi
Saran untuk siswa: Pertahankan pola makan gizi seimbang. Tetap aktif bergerak minimal 60 menit per hari.

Saran untuk sekolah/guru: Pertahankan program kantin sehat. Lakukan skrining ulang setiap semester sebagai pemantauan rutin.

Saran untuk orang tua: Dukung pola makan sehat dan aktivitas fisik anak. Batasi makanan olahan dan minuman manis.

Tindak Lanjut
Memerlukan penyesuaian asupan kalori (pengurangan gula/lemak) dan peningkatan rutinitas aktivitas fisik harian.

 

Rekomendasi
Saran untuk siswa: Kurangi makanan tinggi gula, lemak, dan makanan cepat saji. Tingkatkan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari. Perbanyak minum air putih.

Saran untuk sekolah/guru: Dorong partisipasi aktif dalam olahraga. Berikan edukasi pola makan sehat. Pantau perkembangan berat badan tiap bulan.

Saran untuk orang tua: Batasi screen time anak. Sediakan makanan rumahan yang sehat. Dampingi anak dalam berolahraga secara rutin.

Tindak Lanjut
Memerlukan penanganan medis ahli gizi, modifikasi gaya hidup komprehensif, dan dukungan emosional dari lingkungan sekitar.

 

Rekomendasi
Saran untuk siswa: Hindari minuman manis dan junk food. Aktif berolahraga setiap hari. Makan dalam porsi teratur dan tidak berlebihan.

Saran untuk sekolah/guru: Rujuk ke dokter atau ahli gizi. Libatkan konselor sekolah jika perlu. Ciptakan lingkungan sekolah yang mendukung gaya hidup aktif.

Saran untuk orang tua: Konsultasi ke dokter atau ahli gizi. Terapkan pola makan sehat seluruh keluarga. Dukung anak secara emosional tanpa menyudutkan penampilan fisik.

2. Hasil ini bersifat identifikasi awal, bukan diagnosis dan bukan penilaian untuk memberikan label kepada murid. 
4. Guru tidak boleh menggunakan istilah yang berpotensi memberikan stigma negatif seperti terlalu gemuk, terlalu kurus atau sebutan lain yang dapat menurunkan kepercayaan diri murid.

Tindak Lanjut Setelah Pengukuran Denyut Jantung

  1. Tindak Lanjut Setelah Pengukuran Denyut Jantung
  2. Hasil penghitungan denyut jantung tiap murid dikalikan dengan 4.
  3. Guru menjelaskan interpretasi sesuai tabel
  4. Guru mengidentifikasi murid yang mempunyai denyut jantung > 120 dan menyarankan murid untuk beristirahat dan tidak mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat ataupun aktivitas fisik berat lainnya sampai denyut jantung berada dalam kategori normal.

Tindak Lanjut Setelah Tes Fleksibilitas

  1. Guru mencatat hasil tes fleksibilitas murid pada lembar hasil tes yang telah disediakan (http://s.id/hasiltesfleksibilitas).
  2. Guru mengunggah lembar hasil tes pada sistem informasi MPLS melalui tautan: https://karakter.data.kemendikdasmen.go.id
  3. Masukkan “Kode Unggah Berkas Tes Fleksibilitas” untuk mengunggah berkas hasil fleksibilitas. Kode dapat diakses oleh Kepala sekolah atau operator menggunakan SSO Pengelola Data Pusdatin. 
  4. Laman akan mengarah ke formulir google. Silakan lengkapi dan unggah laporan tes fleksibilitas MPLS Ramah 2026. 
  5. Tekan submit/selesai jika semua data sudah terisi secara lengkap. 
  6. Hasil tes fleksibilitas dapat diperoleh sekolah setelah mengisi evaluasi kegiatan MPLS mulai tanggal 31 Juli 2026.
  7. Hasil tes digunakan sebagai dasar rekomendasi umum untuk  pendampingan, edukasi kesehatan, pembinaan aktivitas fisik, dan komunikasi dengan orang tua/wali murid jika diperlukan.
  8. Sekolah/guru dapat memberikan pembinaan aktivitas fisik sesuai dengan tingkat fleksibilitas murid, mulai dari pengembangan potensi olahraga/seni, pelibatan dalam aktivitas gerak sampai pendampingan khusus untuk mencegah cedera dan meningkatkan mobilitas tubuh.
  9. Orang tua dapat mendukung aktivitas fisik dan kebiasaan gerak anak sesuai dengan tingkat fleksibilitasnya, mulai dari pengembangan minat olahraga sampai pendampingan untuk mencegah kekakuan otot dan risiko cedera.
  10. Tabel Rekomendasi Tes Fleksibilitas untuk murid, sekolah, dan orang tua dapat dilihat pada laman https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/mplsramah/

Rekomendasi untuk Murid:

Pertahankan latihan peregangan 3-5 kali per minggu. Ikuti ekstrakurikuler olahraga yang disukai

 

Rekomendasi untuk Sekolah/Guru:

Jadikan murid sebagai peer motivator. Pertahankan program Penjaskes yang sudah berjalan

 

Rekomendasi Orang Tua:

Dukung kegiatan olahraga anak di luar sekolah. Apresiasi pencapaian anak agar tetap termotivasi

Rekomendasi untuk Murid:

Lanjutkan peregangan rutin. Tambahkan yoga atau senam ringan 3 kali per minggu

 

Rekomendasi untuk Sekolah/Guru:

Pertahankan program pemanasan wajib sebelum olahraga. Monitor di skrining berikutnya

 

Rekomendasi Orang Tua:

Dukung kebiasaan peregangan anak di rumah. Ajak olahraga bersama di akhir pekan.

Rekomendasi untuk Murid:

Tingkatkan peregangan menjadi 5 kali per minggu. Latih hip flexor dan punggung bawah secara rutin. 

 

Rekomendasi untuk Sekolah/Guru:

Tambahkan porsi latihan fleksibilitas dalam pelajaran Penjaskes. Target naik kategori dalam 1 semester

 

Rekomendasi Orang Tua:

Ingatkan anak untuk peregangan setiap hari. Dukung dengan menyediakan ruang gerak di rumah

Rekomendasi untuk Murid:

Lakukan peregangan setiap 10-15 menit. Duduk dan raih ujung kaki secara perlahan

 

Rekomendasi untuk Sekolah/Guru:

Berikan program latigan fleksibilitas terstruktur. Skrining ulang dalam 3 bulan.

 

Rekomendasi Orang Tua:

Dampingi anak berlatih peregangan di rumah. Konsultasikan ke guru Penjaskes untuk panduan latihan.

Rekomendasi untuk Murid:

Wajib peregangan intensif setiap hari. Ikuti bimbingan khusus dari guru Penjaskes

 

Rekomendasi untuk Sekolah/Guru:

Rujuk ke program remidial Penjaskes. Koordinasi dengan orang tua untuk latihan di rumah. Skrining ulang dalam 2 bulan.

 

Rekomendasi Orang Tua:

Sertakan anak dalam kegiatan fisik terstruktur di luar sekolah. Konsultasikan ke dokter jika ada keterbatasan fisik.

CATATAN PENTING

  1. Kegiatan ini bersifat identifikasi awal, bukan diagnosis medis dan penilaian untuk memberi label kepada murid.
  2. Guru tidak boleh menggunakan istilah yang berpotensi memberikan stigma negatif seperti terlalu gemuk, terlalu kurus, tidak lentur atau sebutan lain yang dapat menurunkan kepercayaan diri murid. 
  3. Hasil pengukuran fleksibilitas murid bersifat pribadi. Pengukuran dan pencatatan perlu dilakukan dengan menjaga kenyamanan serta privasi tiap murid. 
  4. Untuk murid dengan cedera, nyeri punggung, nyeri lutut, gangguan muskuloskeletal, atau kondisi kesehatan tertentu, tes fleksibilitas dapat ditunda atau disesuaikan. 
  5. Pada tes fleksibilitas, murid tidak boleh dipaksa menjangkau terlalu jauh. Gerakan dilakukan perlahan, tanpa hentakan, dan dihentikan apabila murid merasa nyeri.
Logo Kemendikdasmen-new25
logo cb
ramah putih

Konsultasi dan Pengaduan

Pusat Panggilan ULT Kemendikdasmen: 177;
Kanal pengaduan LAPOR Kemendikdasmen: https://kemendikdasmen.lapor.go.id/

Kontak Narahubung: 

TK: Utari Palupi (082125186980)

SD: Eva Aulia (0895809246518), Kadek Jeny (085161694648)

SMP: Nahri Meilani (085353220507)

SMA: Anditya Pratama (087776813688) 

SMK: Aaron Sanger (081212575745)

SLB:  Aris Setiadji (085710042816)

wpChatIcon
wpChatIcon