Yogyakarta, 4 Desember 2025 – Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan melaksanakan kegiatan Diseminasi Evaluasi Dampak Implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat terhadap Penguatan Karakter Murid. Kegiatan ini berlangsung di Amphitheater Museum Muhammadiyah Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil evaluasi implementasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) secara komprehensif kepada para pemangku kepentingan, mengkomunikasikan temuan utama terkait capaian, tantangan, faktor pendukung, serta dampak pembiasaan 7 KAIH di satuan pendidikan; mengumpulkan masukan dan umpan balik dari kepala sekolah, guru, orang tua/wali, dan peserta didik guna memperkaya pemahaman terhadap implementasi di lapangan; menyebarluaskan rekomendasi kebijakan yang dapat digunakan untuk memperkuat pelaksanaan PPKPSP dan pembiasaan 7KAIH; serta mendorong replikasi dan perluasan praktik baik yang ditemukan selama evaluasi agar dapat diterapkan di lebih banyak satuan pendidikan.
Pada diseminasi ini, Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Teknologi Pendidikan, Moch. Abduh, mengatakan bahwa pengukuran dampak Gerakan 7 KAIH dilakukan secara berlapis untuk memastikan bahwa perubahan perilaku murid dapat diukur secara objektif dan berkelanjutan. Pada lapisan pertama, pengukuran dilakukan menggunakan instrumen skala Likert untuk memotret frekuensi dan konsistensi kebiasaan, sehingga dapat membedakan antara perilaku yang hanya dilakukan sesekali dan kebiasaan yang benar-benar telah membentuk karakter. Lapisan kedua berupa evaluasi mendalam yang dilakukan oleh tim Universitas Ahmad Dahlan dan Puspeka untuk menilai indikator perubahan perilaku, seperti peningkatan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan murid menghadapi tantangan era Gen Z dan Gen Alpha. Lebih lanjut, lapisan ketiga diwujudkan melalui kegiatan diseminasi 7KAIH yang bertujuan memperkuat budaya belajar di satuan pendidikan. Abduh menekankan pentingnya mengembangkan tiga tipe pembelajar dalam gerakan ini: Learner (pembelajar yang terus berkembang), Unlearner (mereka yang belajar melepaskan kebiasaan lama yang tidak relevan), dan Relearner (mereka yang mengulang serta memperkuat pemahaman dalam praktik nyata). Pendekatan bertahap dan komprehensif ini diyakini mampu memastikan bahwa 7KAIH bukan sekadar program, tetapi menjadi budaya karakter yang berkelanjutan di sekolah dan lingkungan keluarga.
Sejalan dengan Abduh, Rita Pranawati selaku Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, juga menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan G 7 KAIH diperlukan komitmen bersama antar Catur Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat/komunitas, dan media. Komitmen bersama ini harus diselaraskan dengan Visi Indonesia Emas 2045. Rita menambahkan pentingnya peran serta kita semua dalam membantu anak-anak membuat kebiasaan baik melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Hal ini berlaku inklusif, sehingga juga menyasar ke Sekolah Luar Biasa, terlebih banyak juga anak-anak SLB yang memiliki semangat tinggi, seperti menjalankan 7 KAIH dan mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat. Keterpaparan pada gawai juga menjadi fokus, karena di sisi negatifnya, gawai (ponsel) tidak hanya mengganggu konsentrasi, tetapi juga banyak hal, seperti daya ingat, daya tahan, dan daya belajar.
Pada kesempatannya, mewakili Kepala Puspeka, Gigih Anggana Yuda selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Puspeka menyampaikan Puspeka bersama Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan telah melaksanakan evaluasi berbasis data di enam provinsi, melibatkan 60 satuan pendidikan dan 734 responden, yang terdiri dari kepala sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik. Diseminasi hari ini menjadi momentum strategis untuk berbagi pembelajaran dan menyusun langkah penguatan implementasi ke depan. Kegiatan ini diikuti oleh total 135 peserta, terdiri dari 120 peserta eksternal (akademisi, kepala sekolah SD, SMP, SMA/SMK, dan SLB, pengawas sekolah, perwakilan Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, UPT BPMP DIY, organisasi pendidikan dan keagamaan, PSKP UAD, serta mahasiswa UAD) dan 15 peserta internal Pusat Penguatan Karakter.
Selain penguatan dari Kementerian, kegiatan ini juga menghadirkan dua diskusi panel. Diskusi panel pertama, mengangkat tema Praktik Baik Implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di Satuan Pendidikan dan Pemerintah Daerah dengan narasumber I Ketut Budiarsa (Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar), La Ode Muhamad Sauf (Kepala SMA Negeri 7 Kendari), Fatin Mahdalina (Kepala SMP Negeri 2 Magelang). Sedangkan diskusi panel kedua, membahas tema Evaluasi Kebijakan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dengan narasumber Azaki Khoirudin (Koordinator Tenaga Ahli Staf Khusus Mendikdasmen), Hilma Fanniar Rohman (Direktur Eksekutif PSKP UAD), dan Budi Asyhari Afwan (Direktur Riset PSKP UAD).
Harapannya, Diseminasi Evaluasi Dampak Implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat terhadap Penguatan Karakter Murid, semakin menjadi titik pemicu bagi seluruh catur sentra pendidikan untuk bersama menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif demi terwujudnya karakter hebat anak Indonesia. (Pusat Penguatan Karakter)

