Jakarta, 26 November 2025 – Dalam rangka memperkuat koeksistensi dan kolaborasi lintas agama dan kultural di Kawasan Asia Tenggara, Puspeka menerima kunjungan audiensi delegasi Filipina yang tertarik untuk mendalami praktik penguatan karakter di Indonesia, khususnya melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) dan Penguatan Inklusivitas dan Kebinekaan. Kegiatan ini dilangsungkan di Ruang Rapat Cerdas, Puspeka, pada Rabu (26/11/2025).
Acara yang bertajuk “Cross-Cultural Religious Literacy On-site Immersion Program in Indonesia for Philippines Delegates” ini difasilitasi oleh Institut Leimena dengan menghadirkan tujuh delegasi Filipina, yakni empat perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis (Ministry of Basic, Higher and Technical Education), Abdulbasit Talicop, Meriam Macalangcom, Salik Sulaiman, dan Welma Vertido, serta tiga kepala sekolah dari Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao Muslim (BARMM), yakni Kamil Alongan, Larry Dadivas, dan Rino P. Duce.
Audiensi dimoderatori oleh Daniel Adipranata selaku Direktur Program di Institut Leimena dengan menyampaikan maksud kunjungan para delegasi Filipina ke Puspeka adalah untuk mempelajari program penguatan karakter untuk pendidikan dasar dan menengah yang tengah dilangsungkan di Indonesia.
“Bapak dan Ibu yang berasal dari Filipina ini merupakan perwakilan dari kementerian dan kepala sekolah dari Bangsamoro, yakni daerah yang terkenal dengan keragaman identitas agama dan budayanya (mayoritas Muslim). Ini menjadi satu kesempatan bagi para delegasi untuk dapat mengetahui dan berdiskusi mengenai langkah Indonesia dalam mengelola keberagaman, khususnya di bidang pendidikan karakter,” tuturnya.
Menyambut baik antusiasme dan keingintahuan para delegasi, Rusprita Putri Utami selaku Kepala Pusat Penguatan Karakter mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa Indonesia dan Filipina memiliki situasi demografis dan geografis yang serupa.

“Keberagaman etnis, bahasa daerah, hingga status negara kepulauan yang sama-sama melekat di kedua negara-bangsa menjadi sebuah keunikan yang kemudian membentuk identitas ASEAN sebagai wilayah yang kaya akan nilai, tradisi, dan perspektif,” ujar Rusprita.
Namun, Rusprita juga menyoroti tantangan yang muncul akibat keragaman ASEAN, terutama dalam aksesibilitas pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di daerah terpencil/pedesaan, minoritas etnis, migran, atau penyandang disabilitas. Di samping itu, gencarnya modernisasi di era kini berisiko mengikis pendidikan karakter anak bangsa.
“Oleh sebab itu, pembentukan karakter yang inklusif dan mengacu pada nilai-nilai Pancasila menjadi sebuah hal yang urgen, sehingga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memiliki misi ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’ yang memanfaatkan literasi lintas budaya dan agama sebagai instrumen penting,” tambahnya. Tujuan ini selaras dengan prioritas nasional “Asta Cita” yang menjadi program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Rusprita menjelaskan bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan pembentukan karakter yang bermula dari pembiasaan hingga membentuk peradaban.
“Ditinjau dari berbagai sudut pandang keilmuan, seperti agama, psikologi, neuroscience¸dan sosiologi, kebiasaan baik yang rutin ditanamkan telah terbukti meningkatkan kontribusi dan karakter individu sekaligus memperkuat peradaban,” ujarnya.
Melalui kerja sama dengan Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri RI, Kemdikdasmen menginisiasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH), Pertemuan Pagi Ceria, Gerakan Pramuka, serta kegiatan ekstrakurikuler lainnya untuk satuan pendidikan di Indonesia. Lebih lanjut, G7KAIH merupakan pembiasaan aktivitas bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, serta tidur lebih awal bagi anak-anak sejak usia dini. Adapun Pertemuan Pagi Ceria bertujuan untuk meningkatkan kebugaran peserta didik melalui Senam Anak Indonesia Hebat, diikuti dengan pengibaran Bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta ditutup dengan doa bersama sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Di samping itu, Puspeka juga telah mengembangkan sejumlah panduan, seperti Modul Pembiasaan Baik Melalui Kepanduan Pramuka, Panduan MPLS Ramah, Ruang Perjumpaan Murid Baru, Modul Kebinekaan Global, Buku Aktivitas Kreatif, dan sejumlah konten edukatif lainnya.

Sejak peluncuran G7KAIH, Puspeka berkolaborasi dengan berbagai media, seperti Sonora FM, iNews, dsb., sekaligus mengadakan Temu Komunitas Nasional untuk Penguatan Pendidikan Karakter dengan melibatkan 47 partisipan dari berbagai organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, komunitas masyarakat sipil, dan mitra pembangunan. Survei internal yang digelar oleh Kemendikdasmen juga mencatat bahwa 86,6% peserta didik merasa lebih segar dan 87,5% anak menunjukkan antusiasme belajar yang tinggi sejak Pertemuan Pagi Ceria dihadirkan. Senam Anak Indonesia Hebat juga berhasil meraih Rekor MURI untuk kategori “Senam Serentak di Satuan Pendidikan Terbanyak”, dengan diikuti oleh 48.589 sekolah dan lebih dari delapan juta peserta didik se-Indonesia.
Menanggapi pemaparan Rusprita, Meriam sebagai salah seorang delegasi Filipina mengapresiasi realisasi visi Indonesia Emas 2045 yang dilakukan oleh Kemendikdasmen. Lebih lanjut, Meriam tertarik mengetahui mekanisme penerapan G7KAIH hingga tantangan yang hadir, terutama jika berefleksi dari konteks Filipina yang justru menganggap inisiatif baru sebagai beban tambahan bagi para guru. Di samping itu, Abdulbasit menambahkan pertanyaan terkait tanggapan kurikulum nasional terhadap kehadiran G7KAIH.
Rusprita menjelaskan pentingnya catur pilar pendidikan, yakni keluarga, sekolah, komunitas/masyarakat, dan media dalam menyukseskan G7KAIH. Adapun pembahasan terkait beban baru diatasi oleh Kemdikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dengan sejumlah pelatihan kesejahteraan sekaligus bimbingan dan konseling bagi para guru. Selain itu, Puspeka melakukan evaluasi baseline dan endline kepada seluruh satuan pendidikan di Indonesia dalam implementasi G7KAIH. Dalam keterlibatan orang tua, satuan pendidikan dapat menggunakan format buku penghubung antara sekolah dan wali murid untuk pencatatan pelaksanaan kebiasaan baik yang dilakukan di rumah.
“Sekolah dapat menggunakan format pencatatan kebiasaan baik yang sudah ada di buku panduan yang telah kami susun, atau dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan. Hal ini mampu meningkatkan peran orang tua dalam pembiasaan baik yang dilakukan di rumah, seperti bangun pagi dan tidur cepat,” tambahnya.
Penulis: Massari Inong Tanaurant

